Kalau 1 Dolar Tembus Rp15 Ribu, Saya Makan Ketoprak Ajah | Berita dan Review Bekasi Terkini - reviewbekasi.com
Keuangan

Kalau 1 Dolar Tembus Rp15 Ribu, Saya Makan Ketoprak Ajah

http://reviewbekasi.com/wp-content/uploads/2018/08/Karton-DOLAR.jpg
Kartun karya Bob Rich/https://app.hedgeye.com

Oleh Sutan Eries Adlin

Menjelang weekend ini, kabar kurang asyik datang dari nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Dalam perdagangannya, Jumat (31/8/2018), 1 dolar mata uang Paman Sam itu harganya sempat mencapai Rp14.884 meski pada perdagangan sore merosot lagi ke level Rp14.829. Hmmm, yang terjadi kemarin itu bikin kaget juga sih karena pada perdagangan pagi, 1 dolar AS masih seharga Rp14.710.

Melemahnya rupiah ke level yang sudah deket-deket Rp15 ribu pastilah jadi perhatian Bank Indonesia dan pemerintah Indonesia. Kalau pakai bahasa yang pernah ngetren di dunia politik, kondisi ini ‘ngeri-ngeri sedap’.

Terus kira-kira apa yang bakal terjadi kalau 1 dolar AS sampai tembus Rp15 ribu? Ngaruh banget gak sih buat kita-kita?

Seingat saya, pada Maret lalu, lembaga pemeringkat internasional Standard and Poor’s (S&P) Global Ratings sudah mewanti-wanti bahwa banyak pihak yang akan ribet kalau nilai tukar rupiah melemah sampai ke US$1 sama dengan Rp15 ribu.

Saya jadi ingat tulisan Pak Dahlan Iskan, mantan Menteri BUMN, yang bercerita bagaimana dia kecopetan. Kaget juga awalnya baca judul tulisan yang dilansir 26 Juli di laman yang dibikin khusus sama beliau, www.disway.id itu, Kecopetan Sebelum ke Amerika. Masak sih mantan menteri kecopetan?

Hehehe, namanya juga Dahlan Iskan (sorry ndak pakai pak nih Pak Dahlan)…, kan beliau mantan wartawan dan andal pula. Pinter banget beliau bikin judul yang eyecatching alias memikat mata gitu. Dan tulisannya memang enak dibaca. Singkat dan mengalir. Lah, kok jadi ngomongin Pak Dahlan sih?

Gini deh, inti tulisan itu bercerita tentang bagaimana Pak Dahlan merasa sebagian dananya hilang begitu saja karena nilai tukar rupiah yang terus melemah dari dolar AS. “Uang senilai Rp20 miliar itu tinggal Rp19 miliar nilainya. Kehilangan Rp1 miliar. Hanya dalam waktu tiga bulan.” Begitu tulis Pak Dahlan.

Tentu yang dimaksud Pak Dahlan adalah kalau tiga bulan lalu uangnya Rp20 miliar itu dibandingkan dengan dolar, maka sekarang nilainya cuma Rp19 miliar. Paham kan maksudnya? Saya susah nih kasih ilustrasinya.

Udah ah, lagian entah kapan kita bakal punya uang miliar-miliaran gitu. Eh gak boleh pesimis gitu ya? Mudah-mudahan saya dan yang baca tulisan ini bisa punya uang miliar-miliaran seperti Pak Dahlan Iskan hehehe. Aminin ya….

BAKAL RIBET

Sip…, kita balik lagi ke pernyataan S&P ya. Yang nomor satu bakal ribet dengan pelemahan rupiah ke level Rp15 ribu per 1 dolar AS—selain orang-orang seperti Pak Dahlan itu—adalah perusahaan yang operasionalnya pakai standar dolar Amerika. Nilai dolarnya sih tetep, tapi untuk beli dolar itu, jumlah rupiahnya jadi bertambah. Emang dolarnya boleh metik, kalau pakai istilah yang sering  dipakai Orang Betawi?

Terus siapa lagi yang bakal ribet?

Perusahaan yang punya utang dalam bentuk dolar. Intinya sama aja, utang dolarnya tetap, tapi buat bayarnya butuh rupiah yang lebih besar. Biasanya, perusahaan yang ngutang dolar gitu minta restrukturisasi kepada pemberi pinjaman kalau nilai tukar rupiah sudah di luar yang mereka ramalkan.

Buat keuangan negara kita pengaruhnya gimana dong?

Hadeuh, ini lebih rumit lagi jelasinnya. Yang jelas, nilai Rp14.800 per 1 dolar AS jauh di atas asumsi pemerintah yang mematok Rp13.400 per dolar AS di dalam Anggaran Pembangunan Belanja Negara (APBN) 2018.

Kalau lihat penjelasan para pakar dan pemerintah sih, pengaruh fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar bisa positif bisa negatif, tapi tentu harus dalam batas yang wajar. Nah, apakah level 1 dolar AS sama dengan Rp14.800 itu wajar atau nggak?

Menurut saya sih, sudah nggak. Sudah lumayan jauh melewati asumsi di APBN itu. Apalagi, kinerja ekspor kita juga gak begitu moncer meski mengalami pertumbuhan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Data Badan Pusat Statistik menyebut total ekspor Indonesia Januari-Juni 2018 mencapai 88,02 miliar dolar AS, tumbuh 10,03% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Katanya sih level pertumbuhan itu ndak terlalu bagus-bagus banget—ini sudah diakuin sendiri lho sama pemerintah. Padahal, kalau ekspor kita oke, berarti manfaat yang didapat dari menguatnya dolar AS terhadap rupiah bisa bertambah.

Jadi, pelemahan rupiah terhadap dolar dampaknya negatif dong bagi keuangan negara. Hmmm, kasih tau gak ya?

Gini deh, yang jelas Mbak Sri Mulyani Indrawati, Menteri Keuangan kita, sudah bilang akan mewaspadai nilai tukar rupiah yang sudah jauh melampui asumsi atau perkiraan di  APBN itu. Kira-kira paham kan maksudnya Mbak Sri itu?

Nah, untungnya—begini nih kalau orang Padang yang punya istri orang Jawa, biar kondisi mungkin udah kurang asyik tetapi tetep optimis atau masih bisa bersyukur—pelemahan rupiah itu tidak terlalu terkait dengan fundamental ekonomi. Apaan lagi ini fundamental ekonomi? Pokoknya, saya baik sangka aja deh kalau pembaca mengerti dengan yang saya maksud.

Otoritas moneter dan pemerintah menyebut pelemahan rupiah lebih karena pengaruh kejadian di luar sana terutama krisis yang terjadi di Turki dan kampungnya Lionel Messi, Argentina. Belum lagi ulah Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang lagi panas hubungan dagangnya dengan China. Di zaman kayak sekarang ini, apa yang terjadi di negeri orang cepet banget pengaruhnya ke negeri kita.

HARGA NAIK

Nah sekarang kita bicara dampak langsung yang bakal orang-orang kayak kita ini rasain.

Nomor satu, harga barang yang banyak kandungan impornya pasti bakal naik. Memang sih, jumlah barang kayak gitu gak mayoritas jumlahnya. Cuma dampak psikologisnya itu loh, bisa aja merembet ke mana-mana.

Ilustrasinya begini. Barang A yang kandungan impornya tinggi pastilah ‘terpaksa’ dinaikin harganya. Bisa aja barang B yang gak pakai bahan impor ikut-ikutan naik harganya. Lapak sebelah  (barang A) naikin harga, kenapa saya (barang B) nggak..? Gitulah kira-kira.

Belum lagi yang model mata rantai begini. Barang A diimpor yang berarti harganya pasti naik. Nah barang A ini jadi ‘bahan baku’ untuk memproduksi B. Mau gak mau, harga B juga harus naik. Terus, barang B digunakan untuk memproduksi barang C. Kejadiannya sama deh, barang C bisa naik harganya. Begitu seterusnya.

Satu dampak lagi dari melemahnya nilai rupiah, ini khusus buat saya, adalah bikin pusing. Bukan dalam urusan ekonomi, tapi politik. Urusan rupiah ini pasti akan jadi amunisi buat oposisi dalam mengkritik pemerintah yang berkuasa.

Kayaknya, saya mah udah capek ngikutin orang-orang pada ribut di media sosial soal dukung sebelah sana ngulitin sini, bela sini maki-maki yang sebelah sana.

Ups, maaf temen-temen, saya harus tutup dulu ini tulisan. Istri saya sudah bawain ketoprak pesenan saya. Pedes manis, bungkus karetnya dua.

Hmm, jangan bilang, “makan masih ketoprak aje pake ngomongin dolar segala!” ya….




Klik Untuk Berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Berita Terpopuler

To Top